Fitness Otak Tingkatkan Konsentrasi

Fitness Otak Tingkatkan Konsentrasi Ayahbunda.co.id

Image by : Dokumentasi Ayahbunda

Dalam  satu menit, seorang balita bisa melakukan beragam kegiatan; berlari,  bermain mobil-mobilan lalu melemparkannya, melompat, dan sederet aktivitas lain. Perhatiannya masih terpecah belah. Di usia ini anak memang  belum memiliki  konsentrasi,  fokus  melakukan  dan  mendengarkan sesuatu dalam rentang waktu tertentu. Namun, balita  yang tak mau diam tetap bisa dilatih konsentrasinya.

Salah satu cara melatih otak  adalah dengan menggunakan  metode brain fitness, sebuah aktivitas melatih otak agar bisa berfungsi optimal dan berkonsentrasi dengan baik. Menurut metode ini ada empat  aspek yang perlu dilatih:

  • Aspek Visual. Sight merupakan kemampuan penglihatan yang datangnya dari mata. Namun kemampuan visual berasal dari kemampuan otak menginterpretasi dan memahami informasi yang dilihat mata. Seseorang disebut  mampu berkonsentrasi ketika matanya bisa fokus beberapa saat pada satu obyek. Ketika dalam waktu cepat mata  bergerak dari obyek, ia telah kehilangan perhatiannya.
  • Aspek Auditory. Aspek ini berkembang baik sejak lahir hingga usia  5 tahun. Ketika mendengar, telinga menerima signal suara, kemudian  otak  memproses dan menginterpretasikan signal-signal ini. Kadang anak tidak memahami instruksi dari pengasuh atau guru di preschool atau TK. Itu tak selalu karena ia tidak mengerti bahasanya, tapi karena intonasi suara guru yang lemah atau  terlalu cepat. Untuk memahaminya  anak perlu dilatih dengan cara :
  • Aspek sensory-motor. Aspek ini berkembang prima sejak lahir hingga 12 tahun. Berbagai sensor yang terdapat dalam tubuh, meneruskan pesan ke otak. Di sini pesan akan diproses dan memberikan output berupa perintah kepada otot-otot untuk bergerak. Maka doronglah  anak untuk banyak berolahraga. Menurut Dr Gwen Dewar, pendiri dan penulis situs parentingscience.com, olahraga terbukti bisa membantu anak memiliki perhatian tinggi dan tidak mudah terganggu.
  • Aspek sosial-emosional. Banyak orang tua lebih asyik mengenalkan huruf abjad dan angka tapi lupa mengenalkan bentuk-bentuk emosi kepada balita. Kealpaan ini dikhawatirkan akan membuat  anak tumbuh seperti robot,  yang tidak mengenal rasa sayang, cinta, dan empati. Padahal kemampuan itu akan membuat anak mampu menghadapi konflik dan berbagai masalah. Selain itu anak juga akan memiliki kemampuan konsentrasi dan sukses di bidang akademi. (ME)
Iklan

Tag:, , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s