Panduan Memilih Alat Kontrasepsi yang Tepat

Seperti kita ketahui bahwakehamilanterjadi karena adanya pertemuan antara sel sperma denga sel telur sehingga terjadi pembuahan. Untuk mencegah agar tidak terjadi pembuahan maka dapat menggunakan alat kontrasepsi sehingga dapat mencegah bertemunya sperma dengan sel telur dan dapat menghentikan produksi sel telur.

Nah, bagi anda yang ingin menggunakan alat kontrasepsi yang terkadang membuat anda ragu dan bingung. Di dalam artikel ini kami akan memberikan panduan memilih alat kontrasepsi yang tepat. Sebelum anda memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi, terlebih dahulu anda mengetahui efektivitasnya. Kontrasepsi akan membantu anda untuk mencegah kehamilan dengan cara yang tepat sesuai dengan intruktur. Sehingga kontrasepsi memiliki 3 pengelompokan fase yang dapat dijadikan panduan anda.

Berikut adalah 3 pengelompokan fase jenis kontrasepsi :

1. Menunda Kehamilan

Pada fase ini penggunaan alat kontrasepsi yaitu untuk menunda kehamilan. Kontrasepsi ini dapat digunakan untuk anda yang menikah muda dan berencana menunda kehamilan.

2. Menjarangkan Kehamilan

Fase menjarangkan kehamilan yaitu mengatur jarak kelahiran anak pertama ke anak selanjutnya. Kontrasepsi ini biasanya digunakan oleh ibu yang sedang menyusui atau ibu yang menunda kehamilan hingga jarak yang ideal.

3. Tidak mau hamil lagi

Fase untuk menghentikan kehamilan, ini dapat dikarenakan faktor kesehatan ibu. Pada alat kontrasepsi ini biasanya bersifat permanen.

Setelah anda mengetahui tujuan anda untuk memilih alat kontrasepsi, maka selanjutnya kami akan memberikan pernyataan yang dapat menjadi pertimbangan anda dalam memilih alat kontrasepsi.

Berikut ini adalah beberapa pertimbangan dalam memilih alat kontrasepsi :

  1. Sesuaikan dengan kondisi suami anda. Intensitas hubungan suami-istri dapat menjadi pertimbangan bagi anda dalam memilih kontrasepsi. Hubungan suami-isteri yang jarang, misalnya karena tugas suami di luar kota dapat menggunakan pil Kb atau kondom.
  2. Mempertimbangkan kondisi ibu, pastikan ketika anda menggunakan kontrasepsi tidak sedang dalam keadaan hamil. Umumnya penggunaan kontrasepsi dimulai ketika ibu sedang menstruasi sehingga dapat memastikan tidak dalam keadaan hamil.
  3. Pilih kontrasepsi pil Kb tidak disarankan bagi anda yang pelupa. Penggunaan yang terus berkala dan membuat anda sering lupa sehingga seringkali memicu kehamilan.

Setelah mempertimbang beberapa faktor diatas, anda dapat memilih kontrasepsi yang sesuai :

1. Pil KB

Menggunakan pil Kb memberikan kelebihan bagi anda yaitu rendah efek samping dan aman dikonsumsi. Dengan menggunakan pil kb dapat mengatur haid. Sedangkan kekurangan menggunakan pil kb yaitu memberikan perasaan mual dan sakit kepala yang ringan. Selanjutnya resiko bagi anda yang pelupa akan meningkatkan resiko hamil.

2. KB suntik

Penggunaan kb suntik dapat menyesuaikan anda ketika masa menyusui dan dapat disesuaian sejak hari pertama haid. Sedangkan kekurangannnya seringkali menimbulkan flek dan memperhentikan haid.

3. Kondom

Ini merupakan alat kontrasepsi yang mudah anda lakukan. Melindungi dari penyakit menular seksual. Kekurangan penggunaan kondom adalah posisi yang pas hingga tidak mengalami kebocoran.

4. Intra Uterine Device (IUD)

Ini merupakan alat spiral yang membantu anda untuk menghalangi pembuahan. Hanya satu kali pasang dan efektif hingga 10 tahun. Kekurangan mengubah siklus haid anda selama 3 bulan pertama.

Setelah anda mengetahui berbagai jenis kontrasepsi, anda dapat berkonsultasi disesuaikan dengan kondisi anda dan suami kepada bidan/dokter. Sehingga membuat anda lebih aman dalam penggunaan kontrasepsi sesuai dengan tujuan anda.

Sumber :Panduan Memilih Alat Kontrasepsi yang Tepat – Bidanku.comhttp://bidanku.com/panduan-memilih-alat-kontrasepsi-yang-tepat#ixzz3YPUFcvTt

Wanita yang Pernah Hubungan Suami-Istri Wajib Tes Papsmear, Mengapa?

Wanita yang Pernah Hubungan Suami-Istri Wajib Tes Papsmear, Mengapa?

Kanker leher rahim atau kanker serviks merupakan kanker terganas nomor dua yang menyerang kaum perempuan, setelah kanker payudara.

Di Indonesia, prevalensi kasus kanker serviks cukup tinggi. Berdasarkan data dari Globocan 2008, ditemukan 20 kasus kematian akibat kanker serviks setiap harinya. Penyakit ini juga menjadi penyebab kematian nomor tujuh di Indonesia.

Kanker serviks disebabkan Human Papilloma Virus (HPV) yang menyerang leher rahim, dan membutuhkan proses yang panjang antara 3-20 tahun untuk menjadi sebuah kanker.

 ILUSTRASI KANKER LEHER RAHIM (kankerleherrahim.com)
 Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek, mengatakan penyebaran virus ini terjadi melalui hubungan seksual sehingga bila seseorang sudah pernah melakukan hubungan intim, ia menyarankan untuk rutin melakukan skrining IVA atau tes Papsmear. Pap smear adalah sebuah langkah pengujian medis untuk mendeteksi ada tidaknya gangguan pada leher rahim, biasa berkaitan perihal kanker serviks.

Akhirnya Para Ahli Menemukan Ukuran “Normal” Mr P

Akhirnya para ilmuwan menemukan ukuran “normal” alat vital lelaki. Peneliti Inggris juga menemukan ada korelasi kecil antara panjang penis saat ereksi dan tinggi badan.

Ukuran panjang rata-rata penis ereksi adalah 13,12 cm. Sementara itu, panjang rata-rata saat tak ereksi adalah 9,16 cm, dan 13,24 cm ketika tak ereksi tetapi teregang. Soal ukuran kelilingnya, rata-rata penis ereksi memiliki ukuran 11,66 cm, dan 9,31 cm ketika tak ereksi.

Di samping itu, para ahli pun menemukan korelasi kecil antara ukuran vital dan tinggi badan. Mereka mengatakan, grafik distribusi ukuran yang mereka peroleh bakal membantu para ahli mengatasi body dysmorphic disorder (BDD), penyakit kecemasan serius yang ada hubungannya dengan citra tubuh.

Studi tersebut dapat membantu memberi konseling pria yang khawatir dengan ukurannya atau menginvestigasi bagaimana hubungan kegagalan kondom dengan ukuran panjang dan keliling penis. Beberapa pria ditemukan sangat cemas dengan ukuran kemaluannya, dan mereka yang sangat stres mungkin bakal terdiagnosis menderita BDD.

Para peneliti membuat sebuah grafik yang menggambarkan distribusi ukuran pria dari segala usia dan ras. Studi yang diterbitkan dalam British Journal of Urology tersebut memasukkan 17 penelitian serta melibatkan 15.521 pria, yang menjalani pengukuran alat vital oleh tenaga kesehatan menggunakan prosedur standar.

Sebelumnya, tak ada ulasan formal yang sistematis mengenai pengukuran tersebut, dan belum pernah ada usaha menciptakan nomogram yang memperlihatkan distribusi ukuran.

Dr David Veale dari Institute of Psychiatry, Psychology, and Neuroscience King’s College London serta South London and Maudsley NHS Foundation Trust mengatakan, “Para pria saling membandingkan ukuran di ruang ganti dan dengan film porno, lalu percaya bahwa ukuran kemaluan mereka kecil. Beberapa pria bahkan diledek pasangannya gara-gara ukuran alat vitalnya kurang panjang. Banyak pria yang mungkin cemas. Bila kami meyakinkan bahwa kemaluan mereka berukuran normal, hal tersebut akan membantu mereka mengatasi kecemasan itu.”

“Kami juga menggunakan grafik untuk meneliti perbedaan antara apa yang dipercaya pria terhadap posisi mereka di grafik dan posisi aktual mereka ataupun posisi mereka seharusnya berada. Kami memiliki klinik spesialis BDD untuk pria yang khawatir dan stres dengan ukurannya. Mereka tak hanya perlu dibantu dengan melihat posisi mereka pada grafik distribusi, tetapi juga butuh terapi formal, seperti cognitive behavioural therapy dan obat-obatan juga,” imbuhnya.

Dr Martin Baggaley, direktur medis South London and Maudsley NHS Foundation Trust, mengatakan, “BDD menyebabkan seseorang memiliki pandangan terdistorsi mengenai bagaimana penampilan mereka, mereka dapat menghabiskan banyak waktu untuk terobsesi mengkhawatirkan penampilan saja.”

Kekhawatiran penampilan itu meliputi berat badan dan bagian-bagian khusus tubuh. Bagi pria, tentu saja ini soal ukuran penis. “Hal seperti ini bisa mengambil alih hidup seseorang dan menciptakan stres yang luar biasa,” katanya.

Hasil studi baru ini diharapkan membantu meyakinkan pria yang prihatin dengan ukuran penisnya serta membantu mereka yang bergerak di bidang klinis dalam mengatasi BDD.

BDD terjadi bersamaan dengan kelainan bernama obsessive compulsive disorder (OCD). Seorang penderita BDD secara terus-menerus membandingkan ukurannya dengan orang lain, serta menghabiskan banyak waktu di cermin atau justru menghindari cermin. “Mereka juga terus-menerus menutupi kecacatan yang terlihat, atau merasa cemas ketika berada di tengah-tengah orang banyak,” katanya.

*PRODUK PASUTRI HERBAL BOYKE*
Solusi Ejakulasi Dini, Impotensi, Lemah Ereksi,
Kualitas Sperma Rendah, Kista, Keputihan, Nyeri Haid
Normalkan Mens, Tambah Kesuburan
Cegah Kanker Serviks,
*100% AMAN, HERBAL & LEGAL BPOM*
*Klik http://www.HerbalBoyke.com*
*SMS/WA 085 876 468 906*
*PIN 7DFD1BDF*
#foredi #gasa #tissumajakani #ladyfem
#ejakulasidini #impoten #keputihan #cepathamil #kista

Inilah Ukuran Normal “Mr P” Saat Ereksi

Banyak pria yang merasa tidak puas dengan ukuran “Mr P” alias penisnya. Mereka berharap mempunyai penis yang lebih panjang dari ukurannya yang sekarang. Padahal, ukuran normal penis saat ereksi ternyata tidak sepanjang yang dipikirkan banyak orang.

Hasil survei terbaru yang dimuat dalam Journal of Sexual Medicine menyebutkan, ukuran rata-rata penis pria saat ereksi penuh adalah sekitar 14 cm. Survei ini dilakukan pada 1.661 pria Amerika.

Sementara itu, menurut dr Naek L Tobing dalam bukunya Seks Tuntunan Bagi Pria, panjang penis orang Indonesia saat lembek adalah 9-12 cm. Pada saat ereksi, ukurannya 10-14 cm. Para orang Barat (Kaukasia) atau orang Timur Tengah, ukurannya sedikit lebih panjang, yakni antara 12,2 cm sampai 15,4 cm.

Dalam survei yang dipimpin oleh seksolog Debby Herbenick PhD ini, para pria yang menjadi responden mengukur sendiri penis mereka di rumah, kemudian melaporkannya. Metode ini dinilai lebih akurat karena tentu lebih sulit bagi seorang pria untuk ereksi di depan orang asing yang akan melakukan pengukuran.

Sebenarnya, apa manfaat dari studi semacam ini? Ternyata banyak, berikut di antaranya:

1. Mengurangi kecemasan
Bukan rahasia lagi bahwa ukuran penis merupakan salah satu topik yang paling sering ditanyakan pada pria. Mereka cemas ukuran yang dimilikinya tidak normal dan terlalu kecil. Karena itu, dengan mengetahui berapa ukuran rata-ratanya, pria tidak perlu lagi merasa cemas. Lagi pula bervariasinya ukuran “kejantanan” pria ini adalah hal yang normal.

2. Mendorong seks yang lebih memuaskan
Ketua peneliti yang melakukan studi ini mengatakan, hasil survei ini bisa berguna bagi produsen untuk mendesain kondom, alat bantu seks, atau sex toys, yang paling tepat. “Perusahaan pembuat kondom bisa mendesain kondom yang bervariasi sehingga tepat dengan berbagai ukuran penis pria,” katanya.

3. Ukurannya tak berubah
Studi ini bukan yang pertama kali yang mengukur panjang organ seksual utama pria. Namun, rata-rata ukurannya tak berubah. Studi sebelumnya juga menyebutkan, ukuran penis pria saat ereksi berkisar 12-14 cm.

Akibat Suntik Silikon, Pria Ini Miliki Mr P Raksasa

Seorang pria Jerman yang memperbesar penisnya dengan silikon justru kesulitan saat berhubungan seks. Pria berusia 45 tahun itu memperbesar alat vitalnya untuk merasa “lebih baik”.

Dengan silikon itu, panjang alat kelamin yang dimiliki Micha Sunch adalah 22,86 cm dengan berat antara 7,5 lbs sampai 9,5 lbs, antara 3 kg sampai 4,3 kg. “Saya tak tahu persis beratnya. Timbangan dapur yang menimbang sampai 3 kilogram tidak bisa menimbangnya,” ujar pria yang tinggal di Berlin itu.

Ia memperbesar alat vital bukan untuk membuatnya lebih tampan, melainkan agar ia merasa “lebih baik”. Kenyataannya, silikon itu justru tidak memberikan kesenangan fisik dan membuat kegiatan seksnya menjadi lebih sulit kendati masih dapat dilakukan.

Ia tak bisa lagi mendapatkan ereksi yang normal. Perbesaran penis tak lagi terlihat karena silikon di dalamnya.

Meskipun penis besarnya membatasi kehidupan seksnya, ia justru ditantang lebih kreatif di tempat tidur. “Setelah mendapatkan ukuran tertentu, ada hal-hal yang tak lagi dapat dilakukan. Paling tidak, tidak dengan semua orang dan harus dilakukan dengan pemanasan,” ujarnya.

Minat Stunz pada perbesaran penis dimulai sekitar 20 tahun lalu ketika mendapatkan pompa sebagai hadiah. “Saya terlalu ingin tahu untuk mencobanya. Pertama kali, saya mencobanya diam-diam. Ternyata, ketika dipompa, saya merasa enak,” katanya.

“Saya merasakan saya tak terjebak dalam tubuh yang lama, tetapi saya mendapatkan kemungkinan mengubah dan membentuknya,” ujarnya.

Lalu, ia memperbesar alat vitalnya dengan injeksi saline. Ia merasa enak juga, tetapi berhenti karena tidak menyukai injeksi dan selalu ada risiko infeksi, juga karena orang di sekitar mulai bertanya-tanya kenapa darah di selangkangan berubah ukuran. Sejak itu, ia mulai mencari sesuatu yang permanen.

Dibutuhkan beberapa tahun baginya untuk menemukan injeksi silikon yang hanya di London ketika ia mulai mencarinya. Bukannya mencari pertolongan medis dari profesional, ia justru mendapatkannya dari mahasiswa kedokteran yang setuju memberikan injeksi pertama. Hingga kini, ia sudah mendapatkan empat kali injeksi di penis dan skrotum.

Dr Aref el Seweife, ahli urologi dari Berlin yang melakukan operasi perbesaran penis, memperingatkan bahwa injeksi silikon di alat vital itu dapat menyebabkan infeksi yang akhirnya membuatnya harus dipotong. “Dalam kasus terburuk, infeksi itu dapat menyebabkan perbesaran arteri di skrotum dan testis mati,” ujarnya.

Studi tahun 2012 dalam Urology Annals pun menyebutkan, prosedur perbesaran penis dengan silikon cair oleh seseorang bukan dokter dapat mendatangkan konsekuensi mengerikan. Stunz mengakui kesalahannya dan setuju pria lain yang ingin memperbesar alat vitalnya harus mendapatkan informasi yang benar.

Dengan ukuran yang tak biasa itu, Stunz mengaku berusaha hidup normal. Ia berusaha membuat alat vitalnya tak terlalu kelihatan. Tidak mudah pula baginya untuk membeli celana.

Ia juga memilih buang air kecil di kloset dalam bilik karena takut kelihatan aneh ketika menggunakan urinal. Ia menggunakan tas selempang untuk menutupi gundukan besar di celana dan tak pernah bercerita kepada orang dekatnya mengenai penampilan fisiknya.

Kadang ia khawatir calon pasangannya hanya tertarik kepadanya karena ukuran alat vitalnya. “Ketika ukuran berkurang, selalu ada bahaya dalam hubungan asmara. Namun, ketika kita punya waktu mengenali orang lain, Anda bakal menemukan ia benar-benar mencintai atau hanya bagian dari diri Anda,” katanya.

Stunz percaya minatnya pada perbesaran penis mengingkari seksisme yang berakar dalam. “Ketika seorang wanita memperbesar payudara, tak seorang pun berkomentar. Saat seorang pria melakukan hal yang sama pada tubuhnya, hal itu jadi layak dibuat dokumentasi karena luar biasa. Saya harap ini berubah karena perbedaannya tak sebesar itu,” tuturnya.

Cara-cara Aneh Pembesaran Organ Vital Pria

Ukuran penis telah menjadi sumber kecemasan kaum Adam sejak zaman dahulu kala sampai saat ini. Berbagai cara mereka lakukan untuk memiliki penis yang bisa dibanggakan, bahkan dengan cara-cara yang berisiko.

Sadhus, pria suci di India, dan kepala suku di Peru menggunakan pemberat untuk menambah ukuran panjang penis mereka.

Sementara itu, suku Dayak di Kalimantan memilih melubangi bagian penis mereka dan memasang benda dekoratif untuk meningkatkan kenikmatan seksual pasangannya.

Suku Topinama di Brasil juga disebutkan membiarkan ular berbisa menggigit penis mereka untuk membesarkannya.

Pria di beberapa daerah di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia juga memiliki sejarah panjang dalam memasukkan atau mencangkokkan berbagai obyek ke dalam penis mereka. Sebagian ahli berpendapat bahwa mereka meniru para pedagang dari Tiongkok yang mengunjungi Asia Tenggara.

Beberapa dokumen sejarah menggambarkan bahwa faktor budaya dan historis memengaruhi para pria memandang organ vital mereka. “Makin besar makin baik” tampaknya menjadi moto keliru yang terus dipercaya selama berabad-abad.

Memiliki penis berukuran kecil masih dianggap sebagai hal yang memalukan di banyak budaya. Stigma terhadap penis berukuran kecil ini semakin menguat seiring dengan pengaruh media pada isu seksual. Akibatnya, keinginan pria untuk membesarkan penis tak pernah surut.

Mayoritas pria yang yang meminta operasi pembesaran penis sebenarnya memiliki ukuran yang normal dan juga berfungsi normal.

Para pasien tersebut menganggap ukuran organ vitalnya tidak normal. Rasa tidak puas tersebut membuat mereka menjadi stres.

Walau efek samping dan keberhasilan dari pembesaran penis ini tidak jelas, permintaannya tetap tinggi. Yang memprihatinkan, tak sedikit yang menempuh cara tidak aman.

Misalnya saja pembesaran penis dengan suntikan silikon atau dengan obat-obatan herbal dan cara-cara tradisional lainnya. Efek samping yang bisa dialami antara lain peradangan, borok di kulit, rasa sakit, dan impotensi.

Sebuah survei yang dilakukan terhadap pria yang melakukan suntikan silikon menunjukkan bahwa 91 persen merasa tidak puas dengan penis mereka, dan 74 persen mengatakan ingin menghilangkan material yang disuntikkan.

Jadi, pikir-pikir dulu jika tak puas dengan ukuran organ vital Anda saat ini. Jangan sampai menyesal kemudian.

Rutin Bercinta Bikin Ereksi Makin Kuat

Pria yang mengalami kesulitan mempertahankan ereksinya biasanya memang lebih jarang bercinta. Tetapi, benarkah frekuensi berhubungan seks yang rendah justru membuat ereksi semakin loyo?

Penelitian mengenai hal tersebut dilakukan tahun 2008 yang mengikuti 989 pria berusia 50,60 dan 70 tahun selama lima tahun. Diketahui pria yang bercinta kurang dari seminggu sekali ternyata beresiko dua kali lebih besar menderita disfungsi ereksi (DE), alias impotensi. Makin jarang bercinta, makin besar risikonya mengalami DE.

“Hasil studi ini menunjukan bahwa hubungan seks secara teratur memiliki efek seperti olahraga rutin, yakni mempertahankan kapasitas fungsional,” tulis para peneliti.

Memang dalam studi itu tidak disebutkan apakah masturbasi juga bisa menjaga fungsi seksual pria. “Sepertinya efeknya akan sama karena baik hubungan seks dan masturbasi sama-sama melindungi fungsi saraf dan pembuluh darah yang berfungsi dalam ereksi,” kata Juha Koskimaki, ahli urologi.

Walau begitu tak semua dokter setuju bahwa bercinta secara teratur bisa mencegah impotensi. “Bercinta itu bagus, masturbasi juga baik, tapi konsep bahwa pria harus berhubungan seks untuk menjaga fungsi ereksinya masih diperdebatkan,” kata Irwin Goldstein, direktur kedoktaran seksual di San Diego.

Para ahli sepakat bahwa ereksi adalah kunci mempertahankan fungsi seksual pria. Ereks ini bisa dilakukan dengan atau tanpa seks. Lagi pula, setiap pria mengalami ereksi spontan ketika mereka tidur. Jadi, walau tidak berhubungan seks sebagian besar pria sebenarnya sudah memiliki pencegahan terhadap terjadinya DE.

Mengapa Organ Intim Perlu Dibersihkan Sebelum Bercinta?

Ada banyak opini mengenai cara menjaga kebersihan organ gential pria. Tetapi, ada beberapa dasar yang bisa dijadikan panduan pria agar organ ini bersih dan sehat.

Cuci dan keringkan

Kulit di area genital pria tak banyak berbeda dengan area lain di tubuh, sehingga dibersihkan saat mandi memakai sabun sebenarnya sudah cukup. Meski begitu, keringkan dengan baik setelah mandi, berkeringat, atau berenang.

Jangan lupa untuk membasuh organ itnim sebelum melakukan penetrasi seksual. Cara ini penting untuk mencegah penularan infeksi kulit. Bagi pria yang tidak disunat, membersihkan kulit di sekitar penis sangat penting.  Dianjurkan juga untuk buang air kecil sebelum dan setelah berhubungan seks untuk mencegah infeksi saluran kencing.

Periksa

Memeriksa penis secara teratur adalah kebiasaan yang baik. Hal yang perlu diperhatikan antara lain adanya luka, jerawat, kutil, atau kulit kemerahan. Perubahan pada bagian kulit ini bisa menandakan adanya infeksi menular seksual, kanker, atau masalah lain. Bila ada keluhan, segera periksakan ke dokter.

Rambut kemaluan

Banyak orang yang percaya rambut kemaluan memiliki fungsi khusus, antara lain membantu organ genital bersih dan hangat, serta memberi kenyamanan saat berhubungan seksual. Rambut kemaluan dan ketiak juga diyakini memicu feromon untuk menarik lawan jenis.

Pakaian dalam

Pakaian dalam yang longgar adalah pilihan terbaik untuk mencegah gangguan reproduksi. Penggunaan pakaian dalam yang ketat diketahui akan menyebabkan organ genital terlalu panas dan merusak sperma.

Terapi untuk Mengatasi “Mr P” Loyo

Bertambahnya usia bisa membuat hasrat seksual dan kemampuan penis tidak sebaik sebelumnya. Tentu saja, ketidakmampuan untuk mencapai ereksi alias impotensi ini bisa membuat hidup seorang pria seolah tamat.

Akan tetapi, sebenarnya banyak yang bisa diperbuat untuk mengatasi kondisi tersebut. Jangan sekadar bertanya kepada teman atau membaca di internet, tetapi datanglah ke dokter dan carilah kemungkinan terapinya.

“Biasanya mereka baru ke dokter setelah dua atau tiga tahun, dan tidak jarang pasangan mereka yang berinisiatif untuk mengajak,” kata Graham Jackson, seorang seksolog.

Pengobatan disfungsi ereksi (DE) akan disesuaikan dengan penyebabnya. Jika impotensi karena faktor psikologis, seperti stres atau depresi, biasanya Anda akan dianjurkan untuk melakukan konseling.

Untuk kasus impotensi yang disebabkan oleh penyakit kronis, seperti hipertensi atau kolesterol, tentu saja yang harus dilakukan adalah mengatasi penyebabnya. Ini berarti Anda harus hidup lebih sehat.

Berikut adalah beberapa hal yang bisa membantu Anda mengembalikan “keperkasaan” di tempat tidur.

1. Sildenafil sitrat/Viagra.
Konsumsi sildenafil sitrat, zat aktif dalam obat Viagra, cocok sebagai pertolongan pertama bagi penderita DE. Dokter dapat memberi resep untuk konsumsi Viagra, Cialis, atau Levitra. Tablet tersebut membutuhkan 30 hingga 60 menit untuk dapat bekerja. Viagra akan merelaksasi pembuluh darah di penis sehingga darah mengalir lebih lancar dan membuat ereksi lebih mudah. Efek dari Viagra dan Levitra dapat mencapai 8 jam, sedangkan Cialis mampu mencapai 36 jam. Namun, ereksi tetap hanya akan terjadi jika ada rangsangan.

Konsumsi obat-obatan antiimpotensi memerlukan resep dokter karena ada beberapa kondisi yang tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi obat ini, misalnya jika Anda juga mengonsumsi obat penyakit jantung.

2. Suntikan
Terapi ini cocok bagi penderita impotensi karena faktor penuaan atau diabetes yang sudah tidak bisa dibantu dengan obat. Suntikan Alprostadil langsung pada penis dapat membantu ereksi bilamana obat seperti Viagra tidak mempan. Ereksi tersebut biasanya dimulai 15 menit setelah suntikan, dan dapat berlangsung hingga 1 jam. Cara kerja Alprostadil adalah merelaksasi otot dan pembuluh darah sehingga aliran darah ke penis menjadi lancar.

Alprostadil juga terdapat dalam bentuk pelet yang akan dimasukkan melalui lubang penis atau uretra dan nantinya akan diserap ke pembuluh darah. Cara ini memang tidak seefektif suntikan. Sebanyak 10 persen dari penggunanya juga mengeluhkan rasa sakit seperti terbakar.

Ada juga bentuk krim dari Alprostadil bernama Vitaros. Sebuah studi dalam Journal of Sexual Medicine pada tahun 2009 mengklaim bahwa 74 persen dari 1.200 lelaki pengguna Vitaros mengalami ereksi yang lebih baik daripada yang hanya memakai placebo, dengan sedikit efek samping.

3. Hormon
Konsumsi hormon dapat dipilih sebagai alternatif bagi mereka yang tidak mempan minum obat ataupun mudah kelelahan. Tingkat hormon testosteron lelaki dapat menurun seiring pertambahan usia atau sebagai dampak dari diabetes, penyakit jantung, obesitas, dan stres. Bila Anda mengalami penurunan libido yang parah, segera tes darah untuk mengukur kadar hormon ini.

Hormon dapat dikonsumsi dalam bentuk tablet, suntikan, atau gel. Tablet tersebut akan ditempelkan di gusi Anda sehingga akan meleleh secara bertahap hingga 12 jam. Suntikan hormon dapat dilakukan oleh seorang perawat dan mampu bertahan hingga tiga bulan. Untuk bentuk gel, Anda dapat mengoleskannya di dada atau lengan.

Meski diklaim efektif, terapi ini masih kontroversial karena beberapa ahli mengaitkannya dengan bahaya kanker dan penyakit jantung.

4. Operasi
Cara ini cocok untuk mereka yang menderita cedera di tulang panggul atau tulang belakang. Bedah implan juga dimungkinkan dalam kasus-kasus yang cukup parah. Operasi ini melibatkan anestesi umum atau hanya di bagian panggul. Kemudian, ahli bedah akan memasukkan implan silikon ke penis. Silikon tersebut setengah kaku dan tidak bisa kempis.

Implan tersebut punya silinder yang terhubung ke pompa kecil yang ditanam di dalam skrotum dan akan membesar atau ereksi jika dipompa.

Ini Alasan Kenapa Gadis Jepang Ingin Jadi Bintang Film Porno

Ini Alasan Kenapa Gadis Jepang Ingin Jadi Bintang Film Porno

Jepang merupakan negara yang terkenal sebagai industri film porno terbesar di dunia. Bahkan negara ini berhasil menyaingi Amerika dengan menghasilkan sedikitnya 4.000 video porno setiap tahunnya.

Video porno Jepang atau JAV biasanya dibintangi oleh perempuan cantik Jepang berusia 19 tahunan. Para produser JAV lebih menyukai “gadis baru” pada setiap film yang ia produksi.

Bahkan pemeran film porno jika sudah usia 23 tahun, telah dianggap terlalu tua di bisnis ini. Kunci sukses di bisnis pornografi Jepang adalah wajah imut-imut dan polos. Selain itu, kemampuan mereka berpura-pura menikmati hubungan itu.

Setiap tahunnya ada gadis cantik Jepang yang bergabung di dalam industri JAV. Bahkan tak sedikit di antara mereka yang mengaku bercita-cita menjadi bintang porno dan menjadikannya sebagai profesi seperti Maria Ozawa dan Sora Aoi. Lantas apakah motivasi mereka terjun di dunia JAV?

Seorang bintang porno diwawancarai rockitreports.com mengaku tidak mudah untuk bergabung di industri JAV, di awal karirnya mereka hanya dibayar beberapa ribu yen. Jumlah itu bahkan tak cukup untuk biaya hidup satu minggu.

Bahkan ia harus mengambil double job untuk bisa bertahan hidup, yakni bekerja sebagai bintang porno pada pagi hingga sore dan malamnya menjadi penjaga toko.

Mulanya ia merasa risih melakukan adegan seks dengan pria baru setiap harinya. Dia ragu apa yang dilakukannya benar atau tidak. Tapi seiring waktu, wanita itu mulai terbiasa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 933 pengikut lainnya.