Pantau Kondisi ‘Pabrik Sperma’, Pria Dianjurkan Sering Cek Testis

Jakarta, Pada pria, testis memegang peranan penting dalam hal reproduksi karena perannya sebagai pabrik sperma. Nah, salah satu cara agar pabrik sperma tetap bisa berfungsi dengan baik yakni dengan mengecek bola testis.

“Pria memang disarankan untuk sering-sering mengecek bola testis. Waktu yang paling baik untuk mengecek bola testis adalah selama atau setelah mandi dengan air hangat,” tutur seksolog Dr dr Andri Wanananda MS kepada detikHealth, Kamis (17/4/2014).

Penggunaan air hangat bertujuan untuk membuat skrotum (buah zakar) menjadi rileks dan tenang sehingga bola-bola testis bisa diperiksa dengan mudah. Biasanya, dikatakan dr Andri, bola testis bagian kanan sedikit lebih besar daripada bagian kiri.

Sementara itu, bola testis kiri posisinya lebih rendah daripada yang kanan. “Jika keadaan bola-bola testis seperti itu, tak perlu khawatir karena hal itu normal. Tapi jika besarnya sudah tidak wajar maka patut diwaspadai,” ujar dr Andri.

Kelainan pada bola testis contohnya jika ada massa, gumpalan atau benjolan yang tidak normal di bagian depan atau samping testis. Sebab, adanya benjolan bisa jadi pertanda gangguan testis, apalagi jika menimbulkan rasa sakit.

Kondisi salah satu testis yang membesar bisa disebabkan oleh tiga hal yaitu:

1. Hernia Scrotalis (burut usus yang turun ke dalam buah zakar)
2. Varicocele (gangguan pada saluran sperma yang dikenal sebagai Vas Deferens)
3. Tumor testis.

“Sepanjang tidak sakit atau nyeri, buah zakar yang hanya sedikit besar sebelah sebenarnya normal-normal saja,” tutup dr Andri.

Bukan Cuma Pinggang, Daerah Kemaluan Juga Bisa Kegelian Saat Bercinta

Jakarta, Rasa geli identik dialami seseorang ketika bagian tubuhnya seperti pinggang, leher, atau tengkuk disentuh atau dikelitiki. Meski terlihat sepele, nyatanya rasa geli yang dialami beberapa orang juga berpengaruh pada kegiatan bercintanya.

Menanggapi hal ini, seksolog Dr dr Andri Wanananda, MS mengatakan rasa geli yang dialami wanita atau pria ketika bercinta menunjukkan ada bagian tubuhnya yang amat peka (sensitif) tetapi tidak termasuk ‘zona erotik’ yang bisa membangkitkan birahi.

Sebab, kadang-kadang ada individu yang punya bagian tubuh yang tergolong ‘Zona-Hyperaesthesia’ atau zona geli, yang bisa terjadi ketika penis melakukan penetrasi ke vagina.

“Jika hal itu terjadi, kemungkinan foreplay tidak optimal dilakukan. Tapi, diharapkan bukan alasan untuk menghindari kekurangan salah satu pasangan, misalnya ejakulasi dini atau disfungsi ereksi,” kata dr Andri kepada detikHealth, Kamis (16/4/2014).

Untuk menyiasati rasa geli saat penetrasi ini, pasangan bisa melakukan foreplay berupa sentuhan dan belaian secara manual atau oral pada zona-zona erotik yang akan bisa dinikmati bila rangsangan diberikan di zona erotik yang tepat.

Dengan zona erotik yang tepat sasaran, otomatis pasangan akan terangsang satu sama lain hingga memicu gairah seksual untuk bisa melakukan berbagai posisi hubungan intim. Cara lain yang biasa dilakukan adalah menanyakan pada pasangan bagian tubuhnya yang mana yang diminati untuk dielus, disentuh, serta bisa merangsang birahi.

“Misalnya yang merasa geli adalah si istri, biarkan dia yang aktif merangsang tubuh suami. Tak jarang cara ini bisa membangkitkan birahinya. Lalu, tanyakan pada istri apa yang ia sukai untuk membangkitkan libido, misalnya melihat film atau gambar sensual,” terang pria yang juga menjadi staf pengajar di Universitas Tarumanegara ini.

dr Andri menambahkan, tiap individu memang memiliki letak zona erotik yang berbeda-beda. Maka, pasangan suami istri disarankan agar sabar mencari zona-zona erotik yang bisa membangkitkan birahi, yang pada wanita akan memicu lubrikasi (pelendiran) vagina.

Studi Ini Ungkap Sebab Gairah Wanita Drop Setelah Beberapa Tahun Menikah

Hamburg, Tampaknya tak hanya kepribadian wanita yang sulit dipahami, tapi juga tinggi-rendahnya gairah seksual si wanita. Masalahnya, sebuah studi menemukan gairah seks wanita cenderung menurun justru ketika setelah menikah. Mengapa bisa begitu?

Tim peneliti dari Hamburg-Eppendorf University Hospital Jerman mengaku mendapatkan fakta tersebut setelah mewawancarai 530 pria dan wanita. Ternyata mereka menemukan 60 persen wanita berusia 30 tahunan memang ingin sering-sering berhubungan intim di awal pernikahan.

Namun empat tahun kemudian angka ini menurun jadi 50 persen. Bahkan dalam kurun 20 tahun setelahnya, angkanya drop hingga tinggal 20 persen.

Sebaliknya 60-80 persen pria tetap ingin bercinta dengan frekuensi yang sama seperti saat pertama menikah, tak peduli berapa tahun usia pernikahannya.

Di samping itu, dari studi yang sama peneliti menemukan 90 persen wanita lebih mementingkan kelembutan dalam hubungan. Berbeda dengan pria, karena hanya 25 persen pria yang telah menikah selama 10 tahun yang mengatakan mereka masih haus kelembutan dari pasangannya.

“Saya percaya perbedaan ini terjadi karena evolusi. Bagi pria, satu-satunya alasan yang membuat motivasi seksual mereka tetap stabil adalah kewaspadaan agar pasangannya tidak diserobot pria lain,” tutur ketua tim peneliti Dr Dietrich Klusmann seperti dikutip detikHealth dari BBC, Selasa (15/4/2014).

Sedangkan bagi wanita, gairah seksual mereka terus berevolusi. Awalnya sangat tinggi di awal pernikahan untuk menciptakan ikatan yang kuat dengan pasangannya, tapi seketika ikatan ini sudah ‘terkunci’ maka gairah seksual mereka pun otomatis menurun.

“Tapi bisa jadi mereka membatasi seks agar pasangan mereka tetap penasaran,” imbuhnya.

Titik Erotis Wanita Jawa Berdasar Warna Kulit: Kuning kehijauan (Kuning Wilis)

Jakarta, Wanita berkulit kuning kuning kehijau-hijauan, dalam bahasa Jawa disebut kuning wilis, mempunyai titik-titik erotis dan magis pada kedua bahu atau pundaknya.

Perlakuan untuk membangkitkan gairah seksualnya pun cukup mudah, yakni cukup dilakukan dengan merangkulnya.

Wanita berkulit kuning kehijau-hijauan yang telah terbuka ‘rahasianya’ pada bagian tubuhnya antara leher dan pangkal lengannya tersebut, tentu akan segera meledak berahinya dan terpacu kuat hasrat biologisnya untuk segera menuntaskannya di medan ranjang! (Kamasutra Jawa, Hariwijaya: 2004)

Manfaat Berhenti Merokok Pada Ereksi di Kelamin Pria

Jakarta, Pada peringatan kesehatan di bungkus rokok telah dijelaskan bahwa merokok dapat menyebabkan impotensi atau disfungsi ereksi pada kelamin pria. Lalu bagaimana efeknya bila kebiasaan merokok dihentikan?

Merokok selama bertahun-tahun dapat menyumbat arteri dalam tubuh manusia. Ketika aliran darah tersumbat, organ lain pun mulai gagal bekerja karena kekurangan asupan darah dan oksigen.

Ketika berhubungan dengan pengaruh rokok, penis tak ada bedanya dengan organ tubuh lain. Bahkan, penis berada pada risiko lebih tinggi dibanding bagian tubuh lain karena arteri yang mengalir lebih sempit atau tipis. Artinya, arteri penis adalah yang pertama terpengaruh oleh racun rokok.

“Perokok berat (heavy smoker) akan mengalami gangguan aliran darah ke batang penis karena kerusakan jaringan pembuluh darah yang mengatur mekanisme ereksi penis,” jelas dr Andri Wanananda, MS, seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, kepada detikHealth, Jumat (11/4/2014).

Timbulnya disfungsi ereksi harus menjadi alasan yang sangat kuat bagi pria untuk berhenti merokok. Disfungsi ereksi harus diperlakukan sebagai tanda peringatan bahwa tubuh sedang mencoba untuk memberitahu arteri mulai tersumbat dan akhirnya akan mulai menyumbat arteri yang lebih besar juga.

“Bila kerusakan jaringan pembuluh darah belum melampaui ambangnya (threshold), dengan berhenti merokok kualitas ereksi penis akan kembali normal secara bertahap,” tambah dr Andri.

Efek merokok biasanya akan sangat berpengaruh pada pria yang merokok lebih dari 3 batang sehari, berumur di atas 30 tahun, apalagi bila disertai dengan kelebihan berat badan. Memiliki banyak lemak dalam tubuh membuat jantung bekerja lebih keras karena harus memompa darah lebih cepat dibanding tingkat normal untuk mendorong melalui arteri yang tersumbat.

Melahirkan Normal Vs Caesar, Mana yang Sering Bikin Wanita Malas Bercinta?

Jakarta, Pasca melahirkan, tak sedikit wanita yang mengalami penurunan gairah bercinta dan terkadang proses persalinan pun kerap dikaitkan dengan menurunnya gairah wanita.

dr Hari Nugroho SpOG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr Soetomo mengatakan mitos terdahulu yang banyak dipercaya masyarakat memang menyebutkan jika kelahiran normal mengakibatkan wanita malas bercinta. Meskipun, beberapa penelitian berskala besar di berbagai negara menunjukkan tidak ada hubungan antara metode persalinan secara normal dan caesar dengan gairah seksual.

“Penelitian menunjukkan bahwa pengaruh jangka panjang tidak berbeda. Tetapi seringkali wanita dengan kelahiran normal takut untuk berhubungan lebih cepat berkaitan dengan luka yang terjadi saat kelahiran normal,” kata dr Hari saat berbincang dengan detikHealth, Jumat (11/4/2014).

Lebih lanjut, dr Hari mengutarakan kondisi pasca melahirkan juga bisa membuat wanita jadi was was bercinta. Menurut ayah satu anak ini, seringkali jahitan yang banyak di vagina akibat persalinan normal mengakibatkan wanita was-was untuk memulai bercinta pasca melahirkan normal.

Untuk itu, dr Hari menyarankan sebaiknya pasangan suami istri jangan terlalu buru-buru untuk bercinta pasca si istri melahirkan. Jika perlu, konsultasikan dengan dokter apakah luka di vagina sudah sembuh betul dan sudah boleh bercinta.

Apabila tidak ada keluhan, dikatakan dr Hari sebaiknya waktu bercinta juga tidak terlalu cepat. Setidaknya, ditunda sampai enam minggu pasca persalinan, baik melalui prosedur normal maupun caesar.

“Setelah 6 minggu, ukuran rahim sudah normal, darah nifas sudah berhenti dan untuk kelahiran normal luka sudah sembuh sempurna. Jangan lupa gunakan kontrasepsi karena kesuburan sudah kembali tanpa didahului oleh menstruasi,” tutur dr Hari.

Awas, Depresi karena Loyo di Ranjang Bikin Pria Rentan Jantungan

Florence, Bila ketahuan loyo atau tak bisa mempertahankan ereksi, pria biasanya malas ke dokter untuk memeriksakan diri. Padahal bila dibiarkan si pria bisa kena depresi akut yang pada akhirnya membuatnya rentan terkena gangguan jantung.

Hal ini dikemukakan sebuah studi dari Italia. Peneliti mengaku mendapatkan kesimpulan tersebut setelah mengamati lebih dari 2.000 pria yang terkena disfungsi ereksi sekaligus depresi. Terutama para partisipan yang di kemudian hari mengalami serangan jantung fatal atau gangguan kardiovaskular serius.

Setelah enam tahun di antara para pria yang tidak mengalami depresi, 91 persen terhindar dari gangguan jantung serius.

Sebaliknya pada partisipan yang tertekan karena performanya di atas ranjang mengecewakan, hanya 85 persen yang terhindar dari masalah serupa.

“Terkait dengan disfungsi ereksi, ternyata adanya gejala depresi dapat memberikan efek yang luar biasa, tak hanya bagi pikiran tapi terasa juga ke tubuh,” tegas peneliti Eliza Bandini, psikiater dari University of Florence seperti dikutip dari CNN, Jumat (11/4/2014).

Bahkan studi yang sama juga menemukan pasien yang mengonsumsi antidepresan sekalipun tidak mengalami penurunan risiko gangguan jantung, jika disfungsi ereksinya tak kunjung diobati.

“Sejauh ini memang belum ada studi yang mengungkap dampak dari pengobatan depresi terhadap risiko masalah pada jantung,” imbuh Bandini.

Yang perlu diwaspadai 15 persen pria yang mengalami disfungsi ereksi pasti terserang depresi. Tinggal bagaimana cara si pria untuk mengatasi impotensi yang dialaminya.

Bisa dengan minta resep obat ke dokter, menambah jadwal olahraga, menurunkan berat badan atau berhenti merokok.

Choreplay, Alternatif Foreplay yang Bisa Dicoba Para Pria

Jakarta, Para pria biasanya berpikir pekerjaan rumah tangga adalah tanggung jawab istri. Padahal bila mereka memanfaatkannya dengan baik, istri akan senang dan mereka jadi mudah dibawa ke ranjang. Cara ini biasa disebut dengan ‘choreplay’.

Sebuah studi dari University of Western Ontario menemukan para istri terbukti lebih bahagia ketika melihat suaminya ikut aktif membantu membereskan pekerjaan rumah tangga. Studi lain dari University of Illinois, Chicago juga sepakat pria yang tidak enggan membantu bersih-bersih rumah, mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga lainnya biasanya akan mendapatkan ‘imbalan’ setimpal di atas ranjang dari istrinya.

Tapi jangan keliru berpikir ini merupakan salah satu cara wanita untuk memanfaatkan suaminya. Justru para wanitalah yang selalu dilanda stres karena harus membereskan pekerjaan rumah tangga sepulang dari kerja.

Padahal tim peneliti dari Belanda memastikan kunci dari bangkitnya gairah seksual wanita hanyalah dengan relaksasi dan rendahnya kecemasan. Hal ini terlihat dari aktivitas otaknya. Saat bercinta, bagian otak yang menunjukkan rasa takut, cemas, dan emosi cenderung berkurang aktivitasnya. Sedangkan pada pria, perubahan ini tak begitu nyata.

“Ini berarti melepaskan segala rasa takut dan cemas bisa jadi salah satu hal terpenting untuk mendapatkan orgasme bagi wanita. Dan bila Anda ingin membuat istri terangsang, kuncinya adalah membantunya mematikan kinerja bagian otak yang dimaksud tadi atau membuatnya tak khawatir lagi, salah satunya mengurangi bebannya melakukan pekerjaan rumah tangga,” tandas peneliti Dr Gert Holstege.

Dengan kata lain ini bisa jadi semacam alternatif foreplay bagi pasangan.

Namun Debby Herbenick dari Indiana University mengatakan ‘choreplay’ bukan semata soal membantu pasangan membereskan pekerjaan rumah tangga. “Ketahuilah bahwa pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak adalah tanggung jawab yang dibagi bersama namun kebanyakan malah dilimpahkan kepada sang istri saja,” katanya.

“Tapi bila pasangan bisa berbagi tanggung jawab dengan adil, mereka cenderung memiliki kepuasan seksual yang lebih tinggi,” imbuh edukator kesehatan seks dari The Kinsey Institute tersebut, seperti dikutip detikHealth dari CNN, Sabtu (12/4/2014).

Hal serupa juga diungkap pakar seks dari situs Good in Bed, Kristen Mark. Menurutnya salah satu alasan banyak wanita yang terangsang melihat suami ikut mengurus pekerjaan rumah tangga ini adalah karena mereka menganggap itu merupakan bentuk perhatian yang lain dari sang suami

Obat Perangsang Bisa Bikin Alat Kelamin Pria Memendek?

Jakarta, Saat gairah dan stamina seksual mulai menurun karena berbagai faktor, obat perangsang atau obat kuat pun menjadi pilihan pria untuk meningkatkan kinerja seksual. Sayangnya, sembarangan minum obat bisa membuat alat kelamin justru menyusut.

“Ada obat perangsang, pada umumnya obat herbal, yang punya efek samping pada kadar hormon pria (testosteron) hingga menurun kadarnya. Hal ini bisa mengganggu penampilan penis,” jelas dr Andri Wanananda, MS, seksolog dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, kepada detikHealth, Senin (14/4/2014).

Tak hanya obat perangsang, beberapa obat herbal lain juga dapat mengganggu kadar hormon testosteron, yang efeknya membuat alat genital terlihat memendek atau menyusut. Berkurang atau terganggunya kadar hormon testosteron bisa membuat tonus otot pria mengecil, termasuk mengurangi tonus atau ketegangan di penis.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr dr Indra G Mansur, DHES, SpAnd dari RSIA Sayyidah, saat berbincang dengan detikHealth. Menurut dr Indra, obat-obatan tertentu memiliki efek samping mengecilkan kelamin pria, terutama obat-obatan herbal yang belum teruji secara medis.

“Di dalam tumbuh-tumbuhan atau obat herbal, entah yang diekstrak atau dihaluskan, ada zat yang belum termurnikan. Ada bahannya yang berkhasiat, tapi tidak dilihat lagi yang merugikan. Contohnya, obat pare. Ada zat yang bisa merusak sperma, makanya sekarang sedang kita teliti untuk dijadikan kontrasepsi pria. Mengkudu juga bisa menurunkan sperma. Maka tidak bagus diberikan untuk orang yang masih ingin punya anak,” jelasnya.

dr Indra menjelaskan beberapa tanaman herbal seperti mengkudu memiliki sifat menekan produksi sel aktif, yaitu sel yang diproduksi terus-menerus dan tidak didaur ulang. Khasiat ini dimanfaatkan untuk menekan sel kanker yang merupakan sel aktif. Tapi efek sampingnya bisa menurunkan sperma, yang juga merupakan sel aktif.

“Dia juga bisa menekan sel di kelenjar yang memproduksi hormon (testosteron). Sel di kelenjar memang tidak aktif seperti sperma, tapi dia aktif mengeluarkan produknya,” terang dr Indra.

Mr P Pria Muda ‘Loyo’ Saat Bercinta Sudah Pasti Disfungsi Ereksi?

Jakarta, Bagi pria, kemampuan penis untuk ereksi memang memegang peranan penting ketika tengah bercinta, apalagi untuk pria muda yang baru saja menikah. Namun terkadang, ketika penis dirasa loyo, tak sedikit pria muda yang mengira dirinya mengalami difungsi ereksi (DE). Padahal, belum tentu.

Dikatakan seksolog Dr dr Andri Wanananda, MS, bagi pria muda memang ada yang memiliki penis dengan kemampuan ereksi tidak optimal. Sehingga, mereka sulit mempertahankan ereksi.

“Ereksi yang tidak optimal bisa disebabkan karena prostatitis yakni infeksi atau peradangan di kelenjar prostat meskipun kondisi ini jarang dijumpai di pria dengan usia relatif muda,” terang dr Andri kepada detikHealth, Jumat (4/4/2014).

Hal lain yang kemungkinan terjadi adalah disfungsi ereksi temporer yang disebabkan menurunnya kebugaran fisik dan psikis misalnya karena stres. Lebih lanjut, kemampuan penis untuk ereksi juga bisa dipengaruhi penyakit kronis yang dialami si pria.

Misalnya diabetes, darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Nah, agar pria bisa mempertahankan ereksinya, ada cara alami yang bisa dilakukan tetapi membutuhkan cukup banyak waktu pastinya.

Disebutkan dr Andri, cara tersebut antara lain rutin melakukan latihan fisik, memenuhi asupan gizi seimbang, mendapat tidur yang cukup minimal delapan jam, dan konsumsi obat herbal misalkan Syberian Gingseng.

“Pemakaian cock ring juga bisa mengganggu kemampuan ereksi penis ketika terjadi gangguan aliran darah di corpus-cavernosum, bagian penting dalam rongga batang penis untuk membendung darah agar bisa ereksi,” imbuh pria yang juga menjadi staf pengajar di Universitas Tarumanegara ini.

Cock ring adalah cincin yang dipasang di pangkal penis dan diklaim bisa membuat ereksi lebih lama dengan mempertahankan jumlah darah yang mengalir di penis.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 684 pengikut lainnya.